Sunday, June 1, 2008

jeritan hatiku

jeritan hatiku
dipagi hari tanpa sinar sang mentari
rintik rintik hujan turun dari langit
hati gunda gulana slalu
menatap sikecil hati bagaikan teriris


jerita hatiku
dipagi hari yg turun hujan
seperti merajam hati ini
tanpa adanya persediaan
untuk sesuap nasih

jerita hatiku
ditengah hujan kumelangkahkan kaki
untuk mengais riski
mencari sesuap nasi
untuk sibuah hati

jerita hatiku
haruskah aku dg sikecil bertahan disini
ataukah aku harus pergi
mencari kebahagian tersendiri
bersama buah hati terkasih

jerita hatiku
ku mengajak engkau mandiri
malah engkau siasiakan diri ini
mengapa begini....
engkau tak mau berubah perbuatanmu..

jeritan hatiku
kutak tahan dengan segalahnya
aku bukan bahan perbandingan
kuingin kembali.....
ketempat diri ini dilahirkan..

jerita hatiku
kukemas pakaian sikecilku
ku melangkahkan kakiku
dengan menggengong sibuah hatiku
tak ada arti ku bertahan disini
karna suami tak mau mengerti

jerita hatiku
biarkanlah aku pergi dg buah hati terkasih
untuk apa aku bertahan disini
kalou engkau tak mau peduli
demi buah hati relakan aku melangkakan kaki

jeritan hatiku
mengapa engkau menahanku
haruskah aku slalu bersabar..
sudah bertahun tahun..kumencobak bersabar
namun kesabaranku slalu engkau salah artikan

jeritan hatiku
mengapa engkau slalu menahanku
apakah masih ada tontonan buatku
yang akan engkau tunjukkan kepadaku
blom cukupkah engkau menyakitiku
blom cukupkah engkau memperbandingkanku

jeritan hatiku
kukan menuruti katamu
kukan tinggal disisimu
namun maukah engkau mengerti
masa depan sikecil yg masih panjang

jerita hatiku
kukan disisimu sampai engkau sadar kembali
namun sampai kapan...kutak mengerti
Tuhan maha adil
akhirnya engkau pergi sendiri

No comments:


yg saya rangkul. yg pakai baju puti anakku.yg sebelah keponakanku

kebahagia itu ada bagi yg mau berusaha

apakah smua orang menilai jelek tentang janda